Kolombia vs Inggris: Bisakah Henderson Hentikan Quintero/Rodriguez?

KULITINTA.ID – Setidaknya ada tiga kejadian saat Harry Kane mencetak gol ke gawang Slovenia pada 5 Oktober 2017 lalu. Pertama, gol yang terjadi pada menit ke-94 itu berhasil membawa Inggris menang 1-0 atas Slovenia. Kedua, gol itu berhasil memastikan Inggris lolos ke Piala Dunia 2018. Dan ketiga, gol itu tidak mampu menghindarkan Inggris dari cibiran para penggemarnya.

Meski menang dan berhasil lolos ke Piala Dunia 2018 dengan gagah, Inggris memang tampil super buruk saat menghadapi Slovenia tersebut. Karena kesulitan menembus pertahanan Slovenia, pemain-pemain Inggris terlihat seperti sekelompok orang yang kehilangan akal.

Para penonton yang memadati Stadion Wembley, tempat dilangsungkannya pertandingan tersebut, merasa sebal dengan penampilan Inggris malam itu. Mereka lalu mencari hiburan alternatif dengan bermain pesawat kertas. Saat mereka sudah bosan melihat kertas terbang, mereka akan mengumpat ke arah pemain-pemain Inggris. Dan saat umpatan itu tak mampu memberikan perubahan terhadap permainan Inggris, mereka memilih pulang lebih awal meski pertandingan belum benar-benar bubar.

Rasa sebal para penggemar Inggris itu diperjelas Paul Hayward, penulis olahraga di Telegraph, yang juga hadir di Wembley malam itu. Seolah lupa bahwa Inggris baru saja lolos ke Piala Dunia 2018, ia menulis judul seperti ini di dalam tulisannya: “Bored spectators, paper planes and early exits – something is seriously wrong with this England team”.

Namun penampilan tidak meyakinkan Inggris tersebut kemudian berubah di Piala Dunia 2018. Inggris bukan lagi tim yang hanya bisa membuat bosan para penggemarnya. Inggris lebih direct, penuh intensitas, gemar pamer kecepatan, dan mempunyai banyak cara untuk meneror gawang lawan. Karena Inggris tak pernah bermain seperti itu sebelumnya, JJ Bull, penulis taktik di Telegraph, bahkan menyebut bahwa Inggris di Piala Dunia 2018 adalah Inggris versi 2.0.

Penampilan Inggris tersebut juga berhasil mengubah pandangan sejumlah penggemar Inggris. Semula banyak yang bersikap skeptis. Namun setelah kemenangan 6-1 atas Panama, penggemar Inggris tak sedikit yang yakin bahwa Inggris bisa berbuat banyak di Piala Dunia 2018.

“Kurasa kami [Inggris] bisa bertahan lebih lama,” ujar Elizabeth, penggemar Inggris asal Brighton. Barry Hughes, penggemar Inggris lainnya, bahkan menganggap penampilan Inggris di Piala Dunia 2018 bukanlah hal nyata. Setelah Inggris mematiskan lolos ke babak 16 besar, ia mengatakan, “Saya sedang berada di dalam dunia mimpi!”

Meski begitu, jika tidak ingin kecewa seperti dalam turnamen-turnamen besar sebelumnya, para penggemar Inggris itu seharusnya tidak menumpahkan optimisme secara berlebihan. Anak asuhan Gareth Southgate tersebut belum benar-benar teruji di Piala Piala Dunia 2018. Inggris hanya memang dari Tunisia dan Panama. Meski memainkan para pemain cadangan, mereka juga baru saja kalah 0-1 dari Belgia di pertandingan pamungkas Grup G.

Selain itu, Inggris juga sudah ditunggu Kolombia di babak 16 besar. Di atas kertas mereka memang lebih baik daripada Kolombia. Namun, Jose Pekerman, pelatih Kolombia, mempunyai pendekatan taktik yang bisa menyulitkan Inggris.

Sinar Terang Juan Quintero

Pemain klasik nomor 10 memang sudah hampir punah ditelan oleh zaman. Sepakbola modern yang super cepat, semakin mewabahnya high pressing, dan pemain-pemain spesialis di lini tengah membuat pemain-pemain sejenis itu, yang selalu menginginkan bola di daerah padat, seringkali kesulitan untuk menunjukkan ilmu sihirnya.

Namun, seperti menentang zaman, Piala Dunia 2018 ternyata mempunyai cerita berbeda. Pertandingan-pertandingan Piala Dunia 2018 sejauh ini sering berjalan lambat. Daripada melakukan pressing ketat, sebagian besar tim juga memilih bertahan secara mendalam. Tak heran jika Juan Quintero, pemain klasik nomor 10 milik Kolombia, bisa bersinar terang di Rusia sejauh ini.

Saat tampil melawan Jepang, Quintero berhasil mencetak gol melalui tendangan bebas. Setelah itu, ia kembali tampil bagus kala Kolombia menghajar Polandia tiga gol tanpa balas. Saat itu ia mampu mengirimkan umpan sempurna ke arah Falcao, sekaligus membangkitkan insting membunuh kapten Kolombia tersebut. Setelah Falcao mencetak gol, Jose Pekerman bahkan tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap pemain Porto tersebut.

Dari pinggir lapangan, ia berteriak, “Juan! Juan! Genius! Genius! You are genius!”

Quintero menutup penampilan gemilang di putaran grup lewat umpan tendangan sudut terukur ke arah Yerry Mina saat Kolombia bertanding melawan Senegal. Mina berhasil mengubahnya menjadi gol. Kolombia menang 1-0 dan berhasil lolos ke babak 16 besar.

Menghadapi Inggris, dengan kurang bugarnya James Rodriguez, Quintero sepertinya akan kembali dipercaya Pekerman untuk menjadi pusat permainan timnya. Bermain dengan formasi 4-2-3-1, Quintero akan dimainkan sebagai pemain nomor 10. Inggris memang gemar bermain cepat, sebuah gaya bermain yang bisa merepotkan pemain seperti Quintero. Namun, pendekatan taktik Inggris, yang kemungkinan besar kembali bermain dengan formasi 3-3-2-2, juga bisa menguntungkan bagi Quintero.

Dalam formasi tersebut, sementara Jesse Lingard dan Dele Alli fokus dalam menyerang, Jordan Henderson sepertinya akan menjadi satu-satunya gelandang Inggris yang ditugaskan untuk membantu pertahanan timnya. Bermain sebagai pivot tunggal, ia akan sering berbenturan dengan Quintero.

Henderson adalah tipe gelandang petarung yang lebih senang melakukan tekel daripada membaca permainan. Jika Quintero mampu memanfaatkan karakter gelandang Liverpool tersebut, ia bisa menggunakan kemampuan individunya untuk membuat Henderson fokus menjaganya. Dengan begitu, ia bisa menciptakan ruang untuk rekan-rekannya dengan membuat Henderson lebih sering keluar dari posisinya. Dan saat itu terjadi, ia juga mempunyai opsi mengumpan lebih lebih banyak.

Dari situ, Falcao, Juan Cuadrado, serta Luis Muriel (yang kemungkinan besar menggantikan peran James Rodriguez) bisa langsung berhadapan dengan tiga pemain belakang Inggris.

Ashley Young Lebih Bertahan, Kirean Trippier Lebih Menyerang

Dalam analisisnya di Independent, Michael Cox menjelaskan bahwa Kolombia memiliki kelemahan di lini belakang. Sementara David Ospina, kiper Kolombia, lemah dalam bola-bola atas, Yerry Mina dan Davinson Sanchez, duet bek tengah Kolombia, memiliki kekurangan dalam koordinasi. Dengan begitu, Inggris bisa memanfaatkan kemampuan duet wing-back-nya, yang sejauh ini memang menjadi kunci Inggris dalam melakukan serangan.

Pergerakan duet wing-back Inggris memang cukup menarik di Piala Dunia 2018. Saat menyerang, tidak hanya berdiri di daerah sepertiga akhir, mereka juga sering berdiri sejajar dengan para penyerang Inggris. Selain untuk memberikan ruang lebih kepada dua gelandang serang Inggris, pergerakan dua wing-back tersebut juga memudahkan John Stones, Kyle Waker, serta Jordan Henderson dalam mengirimkan umpan-umpan lambung.

Namun, mengingat Kolombia mempunyai kecenderungan melakukan serangan dari sektor sayap. Duet wing-back Inggris harus hati-hati saat ikut maju ke depan. Terutama di sektor kanan, Kolombia memilki Juan Cuadrado dan Santiago Arias yang cukup berbahaya saat menyerang. Itu berarti bahwa Ashley Young, yang kemungkinan besar dimainkan sebagai wing-back kiri, akan lebih sering bertahan daripada maju ke depan.

Bersama Manchester United musim lalu, sering bermain sebagai full-back kiri, Young memang lebih berperan dalam bertahan. Ia beberapa kali ditugaskan Mourinho untuk mematikan pemain sayap kanan lawan. Namun, mengingat kecepatan yang dimiliki oleh Cuadrado dan bantuan yang diberikan Arias, Young juga harus mendapatkan bantuan dari pemain-pemain Inggris untuk mengamankan daerahnya. Ia sudah berumur dan bukan lawan sepadan Cuadrado menyoal kecepatan.

Dengan lebih bertahannya Young, sekali lagi, Inggris bisa memanfaatkan Kieran Trippier untuk melakukan serangan dari lebar lapangan. Di Piala Dunia sejauh ini, wing-back Tottenham Hotspur tersebut memang tak mengewakan saat menyerang. Catatan statistiknya bisa menjadi bukti: rata-rata melakukan 4,5 umpan silang per laga, ia berhasil mencatatkan 1 assist dan rata-rata mencatatkan 3,5 umpan kunci dalam setiap laga.

Menariknya, saat ia tidak bisa melakukan umpan silang dari daerah sepertiga akhir atau dari daerah depan, Trippier juga bisa melakukan umpan silang dari daerah yang lebih dalam. Tujuannya tidak melulu ke arah kotak penalti lawan, melainkan bisa juga ke arah lari Jesse Lingard dan Dele Alli yang sering muncul dari lini kedua.

Selain melalui Trippier, Inggris juga dapat memanfaatkan bola-bola mati untuk melakukan serangan. Sejauh ini, mereka terlihat sangat efektif dalam memanfaatkan bola-bola mati. Dari 8 gol yang dicetak Inggris di Piala Dunia sejauh ini, 4 di antaranya berawal dari bola-bola mati. Jika Inggris bisa memanfaatkan Dele Alli dan Lingard untuk merusak koordinasi lini belakang Kolombia, mereka juga bisa memanfaatkan bola-bola mati tersebut untuk mengeksploitasi kelemahan David Ospina dalam mengantisipasi umpan-umpan lambung.

Kemungkinan absennya James Rodriguez memang menguntungkan Inggris dalam pertandingan ini. Meski demikian, jika Inggris gagal mematikan Juan Quintero dan Cuadrado, mereka bisa menyulitkan diri sendiri. Namun, anak asuh Gareth Southgate tetap mempunyai peluang lebih besar daripada Kolombia untuk melaju ke babak perempat-final Piala Dunia 2018.

SUMBER : tirto.id

Related posts