Kebijakan Stimulus Ekonomi China Tekan Harga Minyak

KULITINTA.ID, JAKARTA – Harga minyak mentah merosot pada perdagangan Senin (8/10), waktu Amerika Serikat (AS), dipicu reaksi investor terhadap kebijakan stimulus ekonomi China yang akan mempengaruhi permintaan minyak di negara dengan perekonomian terbesar kedua dunia tersebut.

Dilansir dari Reuters, Senin (9/10), harga minyak mentah berjangka Brent merosot US$0,25 menjadi US$83,91 per barel setelah tertekan ke level US$82,66 per barel. Pekan lalu, Brent sempat menyentuh level US$86,74 per barel, tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) turun US$0,05 menjadi US$74,29 per barel. Sepanjang sesi perdagangan, harga WTI sempat terjerembab ke level US$73,07 per barel.

Para pedagang menyeret harga Brent ke level di bawah US$83 per barel pada awal sesi perdagangan, setelah bank sentral China memangkas giro wajib minimum perbankan pekan lalu. Hal itu memberikan sinyal Beijing sedang berupaya menjaga pertumbuhan ekonomi.

“Reaksi China terhadap perlambatan di negaranya merupakan upaya penyelamatan yang direspons pelaku pasar,” ujar Partner Again Capital Management John Kilduff di New York.

Pelaku pasar menyatakan harga mendapatkan dorongan dari laporan baru yang menunjukkan penurunan persediaan minyak di hub pengiriman utama Cushing, Oklahoma, AS pekan lalu.

Berdasarkan laporan Genscape yang dikutip trader, persediaan minyak di Cushing tercatat sekitar 28,5 juta barel pada Jumat (5/10). Angka itu menurun sekitar 15 ribu barel dari laporan Genscape awal pekan ini.

Penurunan pasokan minyak mentah meredakan kekhawatiran yang telah menekan harga minyak, setelah pemerintah AS merilis data kenaikan persediaan minyak mentah komersial AS.

Di awal sesi perdagangan, harga minyak mentah juga tertekan ke level di bawah US$83 per barel, akibat pemberitaan terkait sebagian ekspor minya Iran yang akan tetap mengalir ke pasar. Hal itu terjadi setelah AS mengenakan sanksi kepada sektor perminyakan Iran.

Pekan lalu, Arab Saudi mengumumkan rencana untuk mengerek produksi minyak mentah bulan depan ke level US$10,7 juta barel per hari (bph), level tertinggi produksi sepanjang masa.

Awal pekan ini, Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh menilai klaim Arab Saudi yang dapat menggantikan ekspor minyak mentah Iran merupakan omong kosong.

“Minyak Iran tidak akan tergantikan oleh Arab Saudi ataupun negara lain,” ujar Zanganeh dalam situs resmi kementeriannya.

Di AS, Senin (8/10) kemarin, perusahaan-perusahaan minyak di Teluk Meksiko menutup operasional 19 persen produksi minyak akibat Badai Michael yang mengarah ke negara-negara bagian Teluk, termasuk Florida.

Jika prediksi sekarang terbukti, badai tersebut akan mengganggu aset produksi besar di Teluk.

“Jika badai bergerak liar akan menjadi hantaman langsung pada aset produksi di Teluk Meksiko,” ujar Kilduff.

Sumber : CNN Indonesia/Editor : Heriyanto, SH

Related posts