Nando Nawawi : Pilkades Lebih Panas Dari Pilpres

KULITINTA.ID, BATANGHARI – Pemilihan Kades serentak akan dilaksanakan pada Bulan November tahun 2019.  Khusus di Kabupaten Muaro Jambi, terdapat 61 desa yang akan melakukan pemilihan serentak yang mungkin akan lebih panas dari Pilpres yang telah dilakukan beberapa bulan lalu.

Uniknya, pemilihan Kades ini selalu menjadi perbincangan (gosip) baik itu di warung, sawah, ataupun tempat-tempat ramai lainnya. Para calon kepala desa mulai bermunculan, dan melakukan sosialisasi secara langsung ke masyarakat.

Pilkades dikatakan lebih panas karena ruang lingkup atau arenanya yang tidak terlalu luas dan masyarakatnya juga dapat berhadapan dan berinteraksi secara langsung dengan para calon. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh para calon Kades, mereka bisa memberikan pengertian dan arahan secara langsung kepada para pendukungnya agar tidak mudah terprovokasi, karena kepentingan masyarakat banyak harus tetap diutamakan. Para calon Kades diharapkan dapat membangun citra politik yang baik dalam melakukan sosialisasi. Menyampaikan visi dan misi tanpa harus menjelekkan calon lain.

Selain itu, masyarakat desa juga harus cerdas dalam menentukan pilihannya. Pepatah Melayu mengatokan untuk memilih pemimpin diibaratkan seperti sebatang pohon, batangnyo besak tempat besandar, daunnyo rimbun tempat belindung ketiko hujan tempat beteduh ketiko panas, akarnyo besak tempat besilo, pegi tempat betanyo, balik tempat babarito (pemimpin hendaknya jadi pengayom). Itulah ajaran orang tua dahulu mengajarkan memilih pemimpin.

Menelisik kondisi saat ini banyak Kades yang kembali mencalonkan diri di Pilkades. Dengan begitu, masyarakat dapat menilai melihat apa-apa saja yang telah ia perbuat untuk desa. Apakah dana desa yang dikelola sudah sesuai dengan realita yang terjadi di masyarakat. Jika tidak, hal itu harus menjadi tanda tanya besar bagi Kades yang hendak mencalonkan diri kembali di Pilkades.

Tidak hanya itu, bagi calon Kades baru masyarakat dapat melihat dari visi dan misinya apakah sesuai dengan keadaan desa, jangan sampai hanya menjadi pemanis kata belaka dan menjadi hambar (lupa) setelah terpilih. Selain itu diharapakan pula dapat merangkul kaum pemuda, karena tidak dapat dipungkiri bahwa kaum millenial saat ini sangat berperan dalam kemajuan desa.

Serta yang terpenting masyarakat harus memiliki jiwa kritis, berani menolak money politic (bagi uang) dan mengawasi pemilihan kepala desa serentak sehingga lahirlah pemimpin desa yang benar-benar peduli pada masyarakatnya.

Sehingga pembangunan desa memberikan dampak positif dan bermanfaat bagi masyarakat banyak dan terwujudnya masyarakat desa yang sejahtera.

Menjadi kepala desa sekarang haruslah berpendidikan, berakhlak, memiliki wawasan yang luas dan bisa menjadi pendengar yang baik atas  keinginan dan keluh kesah dari masyarakatnya.

Lebih dari itu kecerdasan serta kepiawaian dalam mengelola dana desa dan pembangunan yang tepat sasaran bagi masyarakat banyak. Apalagi, dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi diharapkan kepala desa bisa menjawab tantangan tersebut.

Artinya, seorang Kades haruslah bisa berperan aktif dalam kemajuan era sekarang termasuk menggunakan media sosial, jangan sampai seorang kepala desa buta kelam terhadap hal tersebut.

Akhirnya, peran semua perangkat desa dan calon kepala desa hendaknya bisa menyampaikan kepada masing-masing pendukung untuk saling menjaga persatuan dan mengedepan kepentingan masyarakat banyak agar tidak mudah terpecah bela. Sehingga terciptanya suasana yang sejuk dan aman bagi masyarakat desa. (*)

Editor : Heriyanto, SH

Related posts