Bahren Nurdin “GAGAL BACA, GAGAL PAHAM”

KULITINTA.ID, JAMBI – Seberapa penting membaca dalam hidup ini? Sangat penting! Bahkan ribuan ayat di dalam Al-Quran yang mulia itu diawali dengan turunnya sebuah kata ‘iqro’ (bacalah.!). Apa maknanya, ribuan ayat yang turun setelahnya akan menjadi tidak bermakna jika umat Islam tidak mampu membaca. Dan sebaliknya, membacalah yang membuat Al-Quran itu dapat dipahami dan diamalkan. Baca!

Pada konteks keseharian, saat ini banyak orang yang kehilangan makna membaca, baik secara harfiah maupun secara implisit. Bahwa saat ini masyarakat sudah tidak lagi buta huruf, iya. Bahwa setiap orang mampu mengeja dan melafal kata-kata, betul. Akan tetapi, harus diakui pula masih banyak diantara masyarakat yang gagal memami isi bacaan. Dua hal yang berbeda antara membaca dan memahami bacaan.

Faktanya, banyak orang membaca tapi tidak paham apa yang ia baca. Atau, paling tidak salah memahi atau menginterpretasi teks bacaannya. Lain yang dibaca lain pula yang diartikan. Singkatnya, gagal paham.

Menagapa itu terjadi? Saya coba kemukakan kemungkinan beberapa alasan. *Pertama*, narrow-mainded alias berpikiran sempit. Banyak orang membaca sesuatu dengan pikirannya sendiri. Baru baca judul saja, sudah mengambil kesimpulan dengan jalan pikirannya sendiri. Orang semacam ini biasanya tidak benar-benar membaca isi teks tetapi hanya mencocok-cocokkan isi pikirannya. Dia tidak mendapatkan sesuatu dari kalimat-kalimat yang dibaca, tetapi menyeleksi isi bacaannya dengan isi pikirannya.

Padahal, saya ingat kutifan dari Oprah Winfrey yang mengatakan _‘reading is a way for me to expand my mind, open my eyes, and fill up my heart’_. Jadi, membaca itu untuk mendapatkan sesuatu dari hasil bacaan. Jika membaca dengan pikiran sendiri apa lagi dengan pikiran tertutup, maka tidak akan memperoleh apa-apa. Maka, sebaiknya bacalah sesuatu dengan pikiran terbuka.

*Kedua*, gagal memahami makna kata. Ada kata-kata atau frasa tertentu di dalam bacaan yang sangat penting sebagai penunjuk makna. Jika gagal memahaminya, maka hilanglah makna sebenarnya. Misalnya, pada artikel saya berjudul _“Mahasiswa: Saatnya Pulang ke Barak”_, saya tempatkan frasa ‘sekedar memberi contoh’ kemudian saya mengutif isi berita dari salah satu media. Lantas banyak sekali para pembaca yang protes bahwa saya menjadikan media sebagai satu-satunya tolak ukur. Gagal memahami frasa ini sehingga muncul kata ‘tolak ukur’. Padahal, seharusnya dipahami masih banyak hal lain yang bisa dijadikan bukti-bukti. Berita di media itu hanya salah satu contoh. Gagal!

Ini sering terjadi. Membaca tidak detail sehingga menciptakan salah persepsi (misperception). Lucunya, yang disalahkan adalah penulisnya. Membaca pun ternyata butuh ilmu.

*Ketiga*, terjebak judul. Tentang ini juga sudah pernah saya bahas dalam artikel khusus. Judulnya _‘Terjebak Judul; Budaya Malas Membaca’._ Silahkan di-searching saja di google karena sudah dimuat di berbagai media. Idealnya, judul memang menggambarkan isi tulisan secara keseluruhan. Tapi terkadang, judul pun bisa bias atau ambigu. Kadang-kadang memang dengan sengaja penulis ‘ciptakan’ untuk memprovokasi minat baca pembaca.

Nah, bagi mereka yang hanya membaca judul, sering kali terjebak. Mereka mengambil kesimpulan jauh di luar isi bacaan. Lebih-lebih dengan pesatnya penggunaan media social saat ini. Judul-judul berita terkadang ‘aneh-aneh’ walaupn isinya tidak pula seaneh judulnya. Dan, ada pula judul yang tidak sesuai dengan isi. Jadi, jangan baca judul doang!

Akhirnya, apa pun bentuknya, membaca sangat penting bagi kehidupan ini. Celakanya, ketika membaca tampa pikiran terbuka, tidak memahami makna kata dengan baik, atau hanya membaca judul saja akan membuat gagal paham. Gagal memahami makna bacaan akan membuat salah paham atau mispersepsi. Maka sudah saatnya belajar membaca dan memahami isi bacaan. Paham?

*Akademisi UIN STS Jambi dan Motivator Pendidikan Nasional.

Related posts