Miris…!!!Untuk Bisa Lewati Tiga Desa, Para Sopir BB Harus Bayar Sebanyak Rp 150.000 Kepada Warga

BATANGHARI (KULITINTA.ID) – Ibarat kata pepatah ” lain orang yang makan Nangka, lain pula orang yang dapat getahnya”, seperti itulah alibi yang saat ini di alami oleh banyak sopir armada pengangkut Batu Bara ( BB).

Hal demikian dikarenakan dalam waktu beberapa hari, dikabarkan sebanyak 3 orang warga Kabupaten Batanghari menjadi korban laka lantas  dengan posisi meninggal dunia di tempat dan menyatakan semua terjadi akibat  korban dari arogannya para sopir penganggkut BB.

Seperti kejadian pertama yang di alami oleh salah satu warga Kecamatan Mersam, khususnya warga Desa Pematang Gadung yang mana kejadian tersebut terjadi pada Rabu (25/08) di Desa Kampung Pulau kecamatan Pemayung, dimana saat itu dikabarkan jika dirinya menjadi korban tabrak angkutan BB, namun setelah di telusuri, mobil yang menabrak korban bukan mobil angkutan BB, melainkan mobil penganggkut batu kerikil yang bertempat tinggal di Kelurahan Pasar Sungai Rengas, kecamatan Maro Sebo Ulu (MSU).

Kejadi kedua dikabarkan dimana salah satu angkutan BB menabrak salah satu anak warga Desa Rantau Puri pada Kamis (26/08) hingga langsung meninggal dunia di tempat, yakni anak berusia 7 Tahun yang mana pada peristiwa tersebut, kejadian tersebut terjadi selepas shalat Magrib saat anak berusia 7 tahun itu ingin pergi mengaji malam dan dikabarkan mobil yang menabrak tersebut merupakan mobil angkutan BB yang tidak bermuatan dengan di kendalikan oleh warga Desa Rantau Puri sendiri.

Kemudian belum begitu lama, hal tersebut terjadi kembali pada siang Jumat (27/08), dimana salah satu armada BB kembali memakan korban dengan menabrak salah satu warga tepat nya di Desa Kubu Kandang.

Dalam peristiwa tersebut, seperti yang di kesalkan oleh salah satu sopir armada BB mengatakan, dimana yang menjadi Problem yang membuat para sopir armada BB merasa tidak adil dalam ketegasan hukum adalah, yang mana pada peristiwa tersebut mereka (para sopir) harus mengeluarkan uang sebanyak Rp 150. 000 yang diduga dengan cara paksa selama 3 hari berturut-turut per satu mobil, dalam satu kali kejadian di jalan lintas pemkab Batanghari.

“Ibarat kata orang makan nangkanya kami dapat getahnya posisi saat ini bang,” sebut salah satu sopir BB yang enggan memberi tahu namanya.

“Kenapa…?karena  yang menabrak korban pada setiap kejadian kecelakaan kan mobil lain, malah kami yang tidak tahu permesalahan harus di pinta paksakan harus memberikan uang sebanyak Rp 50.000 untuk mobil berplatkan kendaraan luar dan Rp 30.000 untuk mobil berplatkan BH, dan itu selama 3 hari 3 malam persatu mobil dalam satu kali melintas, persatu kali kejadian. Coba abang bayangkan, berapa banyak jumlah angkutan BB yang melintas perharinya, yang harus dinpaksa mbayar Rp 30 .000 sampai Rp 50.000 persekali melintasi Desa Kubu Kandang, Rantau Puri dan Desa Kampung Pulau ..?” lanjutnya.

Kemudian dirinya juga memaparkan, jika pada kejadian tersebut khususnya Masyarakat Kampung Pulau, Rantau Puri dan KububKandang para sopir sempat harus di pungut dan warga harus meminta selama 3 hari berturut-turut, para sopir ingin mengeahui, siapa penanggung jawab  yang katanya pemungutan tersebut atas izin polisi dan pemerintahan dan kemana pungutan dana tersebut yang sudah terkumpul di berikan.

“Ya kami sebagai sopir ingin tahu siapa dalang atau penanggung jawab sebenarnya di balik pemungutan ini dengan cara katanya wajib, kami tidak keberatan jika membantu korban, tapi ya…yang namanya bantuan itukan tidak secara pemaksaan, jadi dimana pihak penegak hukum, apakah harus selalu begini keadaanya yang kami alami para sopir yang cuma rakyat kecil banting tulang dengan cara menjadi sopir untuk memberi nafka anak dan bini di rumah,” imbuh sopir dengan rasa kecewah.

“Jangan tahunya minta cara paksa terus setiap ada yang meninggal dunia, seperti kejadian warga mersam, yang jelas menabrak buka mobil BB, namun mobil pembawa batu kerikil, tapi kenapa pihak polisi dan pemerintah setempat hanya pejam mata melihat kami para sopir di paksa harus bayar Rp 50.000 per mobil di Desa Kampung Pulau kecamatan Pemayung, apakah dengan begitu saja cara kerja penegak hukum dan penjabat tinggi dalam menyelesaikan masalah membiarkan pungutan di atas penderitaan orang lain, bukalah hati, lihatlah nasib kami para sopir yang menjadi korban keegoisan dan kearoganan para Masyarakat yang ikut memungut tersebut,” tutup salah satu sopir BB dengan tegasnya.

Pewarta: Erpan

Penanggung jawab: Heriyanto SH

Related posts