Nah…!!!Keberadaan PT Jindi South Jambi Kembali Meresahkan Masyarakat, Warga: Kami Minta Pemerintah Stopkan dan Tutup PT itu

BATANGHARI (KULITINTA.ID) – Belum lagi diselesai permesalahan permintaan Masyarakat atas perbaikan jalan yang rusak karena akses jalan yang sebelumnya mulus hingga kini rusak akibat di gunakan oleh PT Jindi South Jambi yang beroperasi melakukan tambang gas Plant, kini Masyarakat kembali di resahkan oleh PT tersebut yang mana dalam hal ini PT Bohay yang merupakan Sub Kontrak PT Jindi tengah melakukan Pengeboran tambang gas di dalam Tiga Desa, yaitu Desa Sengkati Mudo, Desa Sungai Puar dan Desa Tanjung Putra Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari.

Aktivitas pengeboran tersebut setelah sekitar satu bulan stop beroperasi, namun saat ini  sudah mulai beroperasi kembali, hingga dimana sejak Juma’t (28/08) sampai Sabtu (29/08) sudah mengkhawatirkan Masyarakat setempat  atas getaran pukulan penggeboran gas plant tersebut hingga selama 2 malam berturut-turut warga terganggu dan merasa ketakutan, bahkan akibat aktivitas pengeboran tersebut membuat kaca jendela Rumah warga Desa Sungai Puar Pecah.

Nurbaiti, warga Desa Sungai Puar yang rumahnya tidak jauh dari pertambangan gas plant  merupakan korban yang kaca rumahnya pecah akibat dari aktivitas pengeboran gas plant tersebut mengatakan, dirinya tidak mengetahui sebelumnya jika PT gas tersebut sedang melakukan pengeboran kembali, sehingga tanpa ia mengira, saat terjadi getaran yang sangat kuat tersebut fikir dirinya itu kejadian Gempa.

“Kami tidak pernah tahu bang sebelumnya kalau getaran yang sudah meresahkan kami setiap malam itu adalah akibat dari pekerjaan PT itu, sehingga kami setiap malam tidak bisa istirahat (tidur) dengan tenang,”kata Nurbaiti Sabtu (29/08/2021) saat dikomfirmasi Media Kulitinta di Rumahnya.

Nurbaiti menyampaikan, getaran tersebut mulai terasa sejak masuknya waktu shalat magrib hingga berhenti sebelum masuk waktu subuh, dan ia juga mengeluhkan akibat dari getaran tersebut, dirinya mendapatkan kerugian pada kaca Rumah miliknya.

“Orang PT itu tidak punya etika bang sepertinya, kenapa saya katakan begitu, pertama mereka tidak pernah menghimbaukan atau meminta izin kepada kami sebagai warga sini kalau akan ada kegiatan pengeboran sampai bergetar seperti itu, kedua mereka bekerja tidak tahu waktu, saat masuk shalat magrib mereka sudah mulai mengebor hingga kami warga jadi ketakutan akibat getaran seperti gempa, dari magrib mereka lakukan aktivitas sampai jam 11 malam berhenti dan lanjut lagi jam 12 malam sampai mau masuk subuh, akibat kuatnya getaran itu, kini kaca Jendelah Rumah saya jadi korban dan kami warga sini sangat terganggu karena tidak bisa istirahat sebab merekan siang malam kerjanya,” tandas Nurbaiti dengan rasa kesal.

“Malam pertama ok lah kami tidak tahu, namun saat malam kedua kami baru mengetahui saat kami melihat percikkan api yang semakin membuat kami ketakutan saat mengetahui itu ulahnya PT gas, pas jam 10 malam karena kami sudah ketakutan semua, maka pas malam kedua getarannya sangat kuat yang buat rumah kami semuanya bersuara dan kepanikan kami sudah tidak bisa tertahankan lagi, akhirnya saya menelpon bahkan menujuh rumah Pj. Sekdes langsung minta untuk di stopkan kegiatan PT itu,”sambungnya.

Senada juga dikatakan oleh Nurhasanah, yang rumahnya berjarak 2 Kilo Meter dari tambang tersebut juga mengatakan getaran pada malam itu juga ia rasakan di rumahnya, sehingga Nurhasanah yang sudah berusia 60 tahun lebih tersebut yang memiliki penyakit Darah Tinggi membuat tubuhnya gemetaran pada malam itu akibat terbawa rasa cemas yang di kiranya gempa bumi.

“Rumah nyai di ujung sana jauh nak dari tambang PT itu 2 kilo meter, tapi nyai tidak bisa istirahat seperti biasa nya sejak malam itu karena tekanan Darah nyai naik akibat getaran seperti gempa itu,” sebut Nurhasanah saat dimintai keterangannya terkait getaran aktivitas pengeboran.

Selanjutnya, selain dari Nurbaiti dan Nurhasana, Ningsi warga stempat juga mengatakan, akibat dari kekhawatirannya setelah tahu PT gas tersebut, ia sampai berucap untuk ajak suaminya menjual Rumah yang berada di Desa Sungai Puar dan membuat Rumah di Kecamatan Maro Sebo Ulu (MSU) hal demikian dikarenakan takut akan terjadinya lumpur lapindo seperti di tempat yang sudah terjadi di beberapa tempat.

“Kami sekeluarga  bang baru sehat dari sakit, baru mau mulai ada nafsu makan, eh begitu kejadian Dua malam ini, saya satu keluarga yang baru enakan dan baru mau bisa istirahat dan selera makan mulai ada, kini akibat PT itu selama dua malam ini istirahat kami sangat terganggu, bahkan saya semakin tidak bisa tidur malam hari karena getaran yang sangat kuat rasanya,” pungkas Ningsi.

“Kira-kira bisa tidak bang pemerintah untuk tutup atau berhentikan PT itu bang, karena kami warga sini sudah merasa sangat diresahkan dan ketakutan bang, enak kalau PT itu ada perhatian dengan kami warga sini, ini sejak 2020 lalu sampai saat ini PT itu tidak pernah membuat untung, yang adanya malah sudah merusak jalan kami sini bang, tolong bang kami pengen pemerintah tegas, stop dan berhentikan PT gas itu dari pada nanti kami dapat masalah buruk.”tutur Ningsi dengan rasa takut.

Saat Media mengomfirmasi kepada Sekdes Desa Sungai Puar, ia mengatakan lagi di kebun, kemudian awak Media kembali mengomfirmasikan permesalah tersebut langsung kepada Camat Mersam, camat mengatakan kalau aktivitas pengeboran PT tersebut sampai saat ini dirinya tidak mengetahui akan kegiatan pengeboran, karena tidak ada sama sekali pihak PT Jindi maupun PT Bohay meminta izin kepada Camat Mersam.

“Saya tidak pernah tahu masalah adanya kegiata pengeboran gas di Desa Sungai Puar, dengan begitu saya pastikan, kalau kegiatan PT tersebut belum memiliki atau mendapatkan izin dari saya sebagai Pejabat dalam Kecamatan,” Tegas Said Saipul SH,  Camat Mesam

“Memang ada kemarin salah satu karyawan PT jindi datang ke kantor camat, namun dalam hal itu tidak membahas pengeboran ataupun izin, tetapi hanya sebatas mengenalkan diri atau bersilahturrahmi kalau di Kecamatan Mersam ada PT Jindi yang bergerak di pertambangan gas hanya debatas itu saja, dan langsung saya tegaskan hanya baru Dua PT yang sudah bersilahturrahmi dengan saya di antara banyak PT di mersam sampai saat ini, yaitu baru PT SPC dan PT kalian,”tutup Camat saat di komfirmasi saat menghadiri Musdes Desa Simpang Rantau Gedang.

Surya, sebagai Humas PT Jindi saat di komfirmasi, dirinya mengatakan kalau kegiatan yang sedang dilakukan itu merupakan pembersihan sumur gas, bukan pegeboran sumur baru.

“Iya bang, kami saat ini melakukan pembersihan pada sumur hari ke -Enam gas plant bang, memang untuk maslah meminta izin ke Camat baru kami belum meminta izin bang, tapi kami kemarin sempat sebatas menghadap saja memperkenalkan diri kepada Camat baru,” imbuh Surya saat ditemui di tambang gas plant.

“Kalau masalah getaran itu bang, saya sudah komfirmasi kepada pimpinan, tapi pimpinan hanya mengatakan tidak apa-apa dan tidak akan terjadi dampak buruk, selebihnya abang kan tahu kalau saya hanya menjalankan pekerjaan sebagai karyawan biasa, kalau untuk kerugian warga akan di ganti rugi”tutup Surya.

Pewarta: Erpan

Penanggung jawab: Heriyanto SH

Related posts