BEDA CERAI KARENA GUGAT DAN CERAI KARENA TALAK

BEDA CERAI KARENA GUGAT  DAN CERAI KARENA TALAK

Cerai adalah perpisahan dalam sebuah perkawinan.

Sedangkan yang dimaksud dengan talak menurut Pasal 117 KHI adalah ikrar suami di hadapan Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya hubungan antara suami istri dari ikatan pernikahan yang sah menurut syariat agama. Hal ini diatur dalam Pasal 129 KHI yang berbunyi:

“Seorang suami yang akan menjatuhkan talak kepada istrinya mengajukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada Pengadilan agama yang mewilayahi tempat tinggal istri disertai dengan alasan serta meminta.

perpisahan dalam perkawinan dapat terjadi karena tiga hal yaitu :

  1. Karena kematian;
  2. Karena perceraian;
  3. Karena putusnya pengadilan.

Dalam Pasal 114 Kompilasi Hukum Islam (KHI) yangberbunyi:

Putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena talak atau berdasarkan gugatan perceraian”.

 

Cerai gugat dan cerai talak merupakan sebuah aturan yang diperlakukan khususnya untuk warga Negara yang beragama islam tepatnya dilakukan dipengadilan Agama ( PA ).

Perbedaan cerai gugat dengan cerai talak :

  • Cerai gugat merupakan proses penceraian dengan gugatan yang diajukan oleh istri terhadap suami untuk memutuskan hubungan perkawinannya.

Contoh dari pengertian diatas dapat diumpamakan, ketika seorang istri ingin memutuskan hubungan perkawinannya maka dilakukanlah cerai gugat di pengadilan Agama yang mana dilaporkan ataupun diajukan gugatannya ditempat daerah kediaman istinya.

  • Cerai talak merupakan sebuah proses penceraian yang diajukan oleh suami terhadap istri untuk memutuskan hubungan perkawinannya

Contoh dari pengertian diatas dapat diumpamakan ketika seorang suami ingin memutuskan hubungan perkawinannya dengan istrinya yang diajukan kepengadilan Agama (PA) ketika seorang suami inigin mengajukan cerai talak maka harus dilakukan ditempat kediaman daerah istri.

Sebuah perkawinan yang dilakukan oleh suami istri semestinya ingin dijalin untuk bisa terus bertahan hingga akhir hayat. Namun ternyata tidak sedikit kita temukan banyaknya perceraian ataupun perpisahan dalam perkawinan. Padahal Allah SWT tidak menghendaki ataupun tidak menyukai dengan yang namanya perceraian. oleh karena itu dalam aturan agama ataupun dalam Komfilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia ada hal-hal yang diizinkan ataupun ketika ingin mengajukan sebuah perceraian ada alasan-alasan yang menjadi sebuah landasan bisa dilakukannya sebuah perceraian.

Perceraian dapat terjadi karena alasan-alasan berikut :

  1. Perceraian dapat terjadi karena alasan salah satu pihak berbuat zina,pemabuk,penjudi,dan lain sebagainya yang sulit untuk disembuhkan.
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya.
  3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain.
  5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai suami atau istri.
  6. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
  7. Suami melanggar taklik talak.
  8. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.

Ini disebutkan dalam pasal 116 Kompilasi Hukum Islam (KHI)

 

Serta ada perbedaan lagi antara cerai talak dan cerai gugat

Cerai gugat,ketika seorang istri melakukan gugatan perceraian lalu masuk persidangan,diproses,lalu diputuskan hasil dari persidangan terebut maka sudah selesai perkaranya,sehingga suami istri tersebut sudah sah dikatakan cerai.

Cerai talak,ketika seorang suami melakukan cerai talak dipengadilan agama setelah proses persidangan,adanya putusan hakim yang dikeluarkan oleh hukum maka suami harus berikar mengucapkan cerai talak terhadap istrinya.

Sedangkan, mengenai cerai karena talak yang diucapkan suami di luar Pengadilan Agama, hanya sah menurut hukum agama saja, tetapi tidak sah menurut hukum yang berlaku di negara Indonesia karena tidak dilakukan di Pengadilan Agama. dari talak yang dilakukan di luar pengadilan adalah ikatan perkawinan antara suami-istri tersebut belum putus secara hukum. Al Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 229 mengatur hal talaq, yaitu talaq hanya sampai dua kali yang diperkenankan untuk rujuk kembali atau kawin kembali antara kedua bekas suami isteri itu (hal. 100). Jadi, apabila suami menjatuhkan talak satu atau talak dua, ia dan istri yang ditalaknya itu masih bisa rujuk atau kawin kembali dengan cara-cara tertentu.

 

 

Related posts